Pada musim semi tahun 1818, sebuah novel tiga jilid anonim berjudul Frankenstein; or, The Modern Prometheus diterbitkan di London oleh penulis muda berusia dua puluh tahun, Mary Wollstonecraft Shelley (1797–1851). Karya ini secara luas diakui oleh sejarawan sastra sebagai novel fiksi ilmiah sejati pertama di dunia, sekaligus menjadi piagam etika fundamental bagi bioetika modern.
Dalam budaya populer yang tereduksi oleh film-film abad ke-20, nama Frankenstein kerap disalahartikan sebagai monster kikuk dengan baut di lehernya. Namun dalam teks aslinya, Frankenstein bukanlah sang monster, melainkan sang penciptanya: Victor Frankenstein, seorang mahasiswa filsafat alam asal Jenewa yang berhasil memecahkan rahasia pembangkitan kehidupan dari jasad mati, namun seketika melarikan diri dalam kepanikan moral begitu melihat makhluk ciptaannya bernapas.
Ditulis pada masa fajar Revolusi Industri ketika rasionalisme Pencerahan mendewakan sains, Mary Shelley melontarkan pertanyaan etis yang paling menentukan: Ketika sains memberi manusia kuasa ilahi untuk menciptakan kehidupan dari ketiadaan, tanggung jawab moral, pengasuhan, dan sosial apakah yang wajib dipikul pencipta terhadap ciptaannya?
flowchart TD
subgraph GENESIS_ID ["Matriks Intelektual dan Sains Frankenstein (1816–1818)"]
direction TB
TAMBORA["1816 'Tahun Tanpa Musim Panas': Letusan Gunung Tambora & Villa Diodati"]
GALVANI["Luigi Galvani: Listrik Hewani & Kedutan Otot (1791)"]
VOLTA["Alessandro Volta: Baterai Kimia & Polarisasi Kontak (1800)"]
ALDINI["Giovanni Aldini: Eksperimen Listrik Mayat George Foster di London (1803)"]
DAVY["Sir Humphry Davy: Kuliah Penaklukan Alam Melalui Kimia Modern"]
FILOSOFI["Tabula Rasa John Locke & 'Manusia Alami' Jean-Jacques Rousseau"]
FEMINISME["Mary Wollstonecraft (Ibu): Hak-Hak Perempuan & Pengabaian Peran Ibu"]
TAMBORA & GALVANI & VOLTA & ALDINI & DAVY & FILOSOFI & FEMINISME --> NOVEL["Frankenstein; or, The Modern Prometheus"]
end
1. Asal Usul Diodati: 1816 dan ‘Tahun Tanpa Musim Panas’
Kelahiran novel ini bertaut erat dengan bencana iklim global. Letusan dahsyat Gunung Tambora di Hindia Belanda pada April 1815 melontarkan miliaran ton sulfur ke stratosfer, memicu “Tahun Tanpa Musim Panas” (1816) di belahan bumi utara, ditandai badai hujan lebat, gagal panen, dan kelaparan massal di Eropa.
Di tepi Danau Jenewa di Villa Diodati, berkumpul Lord Byron, dokter pribadinya John Polidori, penyair Percy Bysshe Shelley, dan Mary Godwin muda. Terkurung badai berhari-hari, Byron mengusulkan: «Masing-masing dari kita harus menulis cerita hantu».
Setelah mendengarkan percakapan malam tentang kemungkinan menghidupkan kembali jaringan mati dengan listrik, Mary mengalami mimpi buruk yang nyata:
“Aku melihat pelajar pucat dari ilmu terlarang berlutut di samping benda yang telah dirakitnya. Aku melihat sosok manusia mengerikan terbaring, lalu atas kerja mesin yang kuat, menunjukkan tanda-tanda kehidupan dan bergerak canggung setengah hidup…”
2. Landasan Sains Eksperimental: Dari Alkimia Menuju Galvanisme
Berbeda dari novel gotik supranatural yang mengandalkan kutukan sihir, Mary Shelley menyandarkan plotnya pada sains eksperimental terdepan:
- Galvani dan Volta: Eksperimen kontraksi otot pada kaki katak mati memicu hipotesis bahwa listrik adalah percikan vital kehidupan.
- Eksperimen Aldini di Newgate (1803): Giovanni Aldini mengalirkan arus listrik kuat ke tubuh mayat narapidana George Foster di hadapan publik; rahangnya bergetar hebat, matanya terbuka, dan lengannya terangkat.
- Sir Humphry Davy: Menyatakan bahwa kimia modern memberikan kekuasaan yang sebanding dengan sang Pencipta dalam menembus rahasia alam.
3. Hubris Victor dan Pengabaian Paternal
Dosa hakiki Victor Frankenstein bukanlah rasa ingin tahunya, melainkan penolakan totalnya untuk merawat, membimbing, dan bertanggung jawab atas makhluk yang ia lahirkan:
flowchart TD
subgraph HUBRIS_ID ["Siklus Kehancuran Moral Victor Frankenstein"]
direction TB
AMBISI["Hubris Promethean: Nafsu narsistik dipuja sebagai bapa ras baru"] --> ISOLASI["Obsesi di laboratorium loteng: Putusnya ikatan keluarga & alam"]
ISOLASI --> NAFAS["Malam November yang suram: Penyulutan percikan hidup"]
NAFAS --> JIJIK["Abjeksi: Rasa jijik dan kengerian mendalam melihat wujud ciptaan"]
JIJIK --> TELANTAR["Kabur melarikan diri: Makhluk bayi terlunta-lunta tanpa nama"]
TELANTAR --> PENGECUT["Pengecut moral: Diam membisu saat Justine dihukum gantung tanpa salah"]
PENGECUT --> BALAS["Pembalasan dendam berdarah sang Makhluk: Kematian orang tercinta"]
BALAS --> KUTUB["Kehancuran bersama di lautan es Arktik"]
end
Mengalami abjeksi saat melihat mata kuning berair dan kulit tegang ciptaannya, Victor kabur. Sang Makhluk, dengan kekuatan fisik raksasa namun kepolosan mental bayi baru lahir, ditinggalkan sendirian di dunia yang dingin tanpa bahasa maupun bimbingan.
4. Tragedi Makhluk Ciptaan: Antara Tabula Rasa dan Kerusakan Moral
Sang Makhluk mengawali hidupnya sesuai Tabula Rasa Locke dan keadaan alami manusia menurut Rousseau: cinta damai, vegetarian, dan peka terhadap kasih sayang. Belajar mengamati keluarga De Lacey, ia menguasai bahasa dan membaca tiga buku agung: Werther karya Goethe, Biografi Paralel karya Plutarkhos, dan Paradise Lost karya Milton.
Dalam karya Milton, sang Makhluk meratapi nasibnya:
“Ingatlah: Aku seharusnya menjadi Adam bagimu; namun aku justru menjadi malaikat jatuh yang kau buang dari segala kebahagiaan tanpa kesalahan apa pun!”
Ketika manusia menyerang dan menembaknya hanya karena rupa fisiknya yang buruk, kebaikannya berubah menjadi angkara murka: «Aku dahulunya baik dan pengasih; penderitaanlah yang menjadikanku iblis».
5. Pelajaran bagi Bioetika Modern dan Kecerdasan Buatan
Kisah Frankenstein menjadi metafora paling hidup bagi tantangan sains kontemporer:
| Narasi Frankenstein (1818) | Sains Abad ke-21 |
|---|---|
| Merakit bagian tubuh jasad | Rekayasa genom CRISPR-Cas9, bayi desainer, biologi sintetis |
| Kekuatan fisik & akal raksasa | Artificial General Intelligence (AGI) berkemampuan super |
| Pengabaian pencipta | Masalah Penyelarasan (Alignment Problem) etika AI |
| Pemberontakan ciptaan | Risiko eksistensial hilangnya kendali manusia atas teknologi |
Pesan Mary Shelley bergema abadi: Siapa pun yang berani menyalakan percikan penciptaan kehidupan, wajib memiliki komitmen moral untuk merawat dan mempertanggungjawabkan ciptaannya hingga akhir.
